
| Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh melalui Badan Baitul Mal terus berupaya mengoptimalkan pengelolaan zakat. Hal itu disampaikan Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE, Kamis (14/8) malam saat menjamu makan malam peserta konfrensi internasional tentang zakat di pendopo walikota. |
|
Hadir pada acara itu pemateri pada konfrensi zakat internasional seperti Prof Dr Essam Abou Nashr selaku Ketua Prodi Akuntansi Fakultas Perniagaan Al-Azhar University Cairo Mesir, Prof Dr Muhammad Syukri Salleh dari ISDEV Universiti Sains Malaysia, Prof Madya Dr Patmawati dari Universiti Tun Husein Onn Malaysia, Prof Dr Alyasa” Abubakar dari UIN Ar-Raniry Aceh dan Dr Armiadi Musa MA dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang juga Kepala Baitul Mal Aceh.Walikota menyatakan, pihaknya akan terus mengoptimalkan penerimaan zakat. “Kami akan terus bekerja keras meningkatkan target penerimaan zakat,” ujarnya. Dia menyebutkan, target penerimaan zakat di Kota Banda Aceh tahun 2014 sebanyak Rp 16,5 miliar. Ini target dari zakat PNS pemko saja, kalau kesadaran masyarakat umum semakin meningkat maka penerimaan zakat bakal jauh lebih besar.Lebih lanjut walikota mengatakan, potensi penerimaan zakat jauh lebih besar dari yang ditargetkan, yakni Rp 16,5 miliar di tahun 2014. “Kita terus berupaya meningkatkan potensi penerimaan dan terus memperbaiki sistem pengelolaan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat muslim,” kata Illiza. Terkait konfrensi internasional tentang zakat, walikota mengatakan, hal itu merupakan sebuah kemajuan dalam kajian keilmuan dan pemahaman bagi Baitul Mal sebagai pihak pengelola zakat, bagi intelektual dan para ulama di Aceh, baik yang berkaitan dengan mengoptimalisasi manajemen zakat maupun peran lembaga non-pemerintah dalam membangun kesadaran zakat.Bahkan kepada penyelenggara konfrensi tersebut, dalam hal ini Jurnal Media Syariah yang bekerja sama dengan Baitul Mal Aceh dan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, walikota meminta rekomendasi dari hasil konfrensi tersebut sebagai referensi.Sementara Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Nazaruddin A Wahid mengatakan, pertemuan dengan walikota pada jamuan makan malam tersebut merupakan pertemuan yang istimewa dan bersejarah. “Kenapa saya katakan istimewa, karena tema konfrensi internasional ini adalah zakat sebagai pilar peradaban sangat sejalan dengan visi misi Kota Banda Aceh yang diusung walikota yakni menjadikan Banda Aceh sebagai model kota madani,” ujarnya.Dikatakannya, berbicara tentang zakat sebagai pilar peradaban dan berbicara tentang kemadanian masyarakat, adalah berbicara tentang hal yang sama di mana dua hal tersebut merupakan sesuatu yang saling berhubungan. Nazaruddin juga mengatakan, konfrensi internasional tentang zakat yang telah digelar dua hari membicarakan berbagai hala penting, yakni membahas bagaimana menjadikan zakat sebagai satu ikon investasi. “Kita harus bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa menunda menggunakan zakat sekarang ini untuk mendapatkan nilai zakat yang lebih banyak di masa yang akan datang,” kata Nazaruddin. Kemudian, hal penting lain yang dibahas adalah bagaimana menjadikan zakat sebagai pengurang pajak yang kemudian menjadikan orang-orang akan berlomba-lomba membayar zakat untuk kewajibannya terhadap agama, sekaligus melunasi kewajiban pajak bagai negara. Selain itu mengoptimalisasi pengumpulan zakat menjadi sangat bermakna bagi kaum muslim secara luas,” katanya. |
